Sport has humbled me in every way

Awal oktober kemarin saya mengikuti olahraga ultra cycling Audax di Yogyakarta di kategori 100 km, sebenarnya kategori ini biasanya diambil oleh pemula. Meskipun saya sudah bersepeda dari 2021 tapi rasanya kemampuan saya masih di kategori pemula

Di audax tersebut saya bertemu dengan cyclist lain yang menurut saya kemampuannya jauh diatas saya, this what i call Sport has humbled me in every way. Kemampuan, tekad, kesiapan dan kondisi fisik seseorang tidak benar benar bisa diukur dengan angka. Ada yang bersepeda baru beberapa bulan sudah join kategori 200 km, ada yang sudah bersepeda lama seperti saya tapi masih berada di kategori 100 km

Jadi yang membuat saya humble adalah ada postingan peserta audax yang menyampaikan ini first audaxnya, dan yang jleb di hati saya adalah dia finishnya lebih dulu dari saya *nangis, padahal saya merasa bahwa saya cukup ok lho, tanjakan2 mampu disikat, speed juga ga lambat2 amat. Tapii saya kena kram di KM 91 yang akhirnya bikin saya rest hampir 45 menit, padahal untuk menyelesaikan 9 Km tersisa estimasi saya hanya butuh 20-30 menit

Akhirnya harus diakui bahwa saya masih butuh banyak latihan dan lebih menikmati momen saja. pada akhirnya yang kita bawa adalah cerita cyclingnya, core memory unlocked




Stubborn never learn

 Almarhum teman saya pernah memberikan komentar ini ke saya, stubborn never learn, karena saya terus mencoba sesuatu yang menurutnya hasil akhirnya pasti akan gagal. Saya tahu teman saya memberikan komentar tersebut bukan karena ybs tidak suka, justru karena ybs care maka ybs berusaha menyadarkan saya

Dalam beberapa kejadian, sebenarnya saya sadar bahwa keras kepala itu tidak perlu, tapi saya terus mencoba kadang karena ingin membuktikan bahwa cara saya pada akhirnya akan berhasil, tapi kadang2 tetap tidak berhasil juga sih hahaha, tapi setidaknya saya tidak penasaran kan. yang pasti ini ego sih

Mungkin juga itu ego masa muda ya, makin kesini makin sembuh sih kelakuan stubborn itu, lebih banyak mikir sebelum bertindak, semoga makin bijak ya kedepannya

Cerita sedikit tentang asal mula kelakuan stubborn ini muncul ya, dulu waktu saya lebih muda, ceileh, saya bukan orang yang bisa mengandalkan keberuntungan, bahkan untuk hal hal yang sifatnya tidak substantial pun sepertinya saya kurang beruntung, ini yaa beberapa contoh saja

- Saya naik pesawat flag carrier nya Indonesia, dulu maskapai ini dilabel sebagai maskapai cukup mewah dan bagus, untuk flight lebih dari 1 jam biasanya mendapatkan in flight meals, nah kejadiannya ketika meals dibagikan entah bagaimana row dibelakang dan depan saya sudah mendapatkan mealsnya tapi row saya ketinggalan. saya pikir mungkin sedang disiapkan ya, nah karena saya orangnya ga enakan, diem saja lah saya menunggu giliran. sampai kemudian pramugari collecting meal traynya baru lah engeh kalau row saya belum mendapatkan meals, akhirnya tetep dapet sih hanya makannya buru2 

- Ketika acara ulang tahun teman, semua orang mendapatkan goodie bags, pas saya mau ambil ternyata goodie bag habis, hal ini berulang beberapa kali di acara2 seminar yang saya hadiri

sebenernya masih banyak lagi sih cerita2 aneh soal ini, tapi dari kejadian2 kecil itulah akhirnya saya mulai jadi orang yang stubborn dan ngotot. Tapi tenang aja, makin tua makin sembuh kok penyakit ini

Have a nice weekend everyone


Be thankful for everything

 Pernah gak kepikiran bahwa kita perlu juga bersyukur atas cobaan yang hadir dalam hidup, mungkin dalam bentuk kesulitan, kata-kata orang yang kurang nyaman di dengar atau perasaan yang timbul dari suatu peristiwa, dianggap tidak ada dan disingkirkan. Somehow rasa itu menjadi motivasi yang lebih kuat daripada motivasi- motivasi positif yang lain

Coba aja diinget-inget, kalau saja waktu itu tidak direndahkan, mungkin kita tidak berusaha sangat keras, kalau saja waktu itu kita kalah dan kekalahan kita di "terima" dianggap bahwa ini hanya salah satu proses ya kita tidak berubah, bakal gitu gitu aja

Pasti ada satu masa dalam hidup kita direndahkan, yang traumanya akan sulit sekali hilang bahkan bertahun-tahun kemudian, tapi in positive way bakal jadi bahan bakar yang bisa membuat kita run extra miles, so be thankful for that

Bersama tapi tetap sepi

aku berjanji untuk tidak mengulangi kesalahan ibuku, ibuku memendam segala perasaan sedih dan marahnya, sampai kemudian kesedihan itu membuatnya sakit yang memjadikannya tidak menikmati masa senja, masa dimana seharusnya ibu menghabiskan waktu bersama keluarga dalam kondisi bahagia, tetapi ibu melewati dalam kondisi sakit raga dan batinnya

Maka sekarang jangan kaget kalau aku selalu mencari cara menyampaikan perasaanku, apa yang aku butuhkan. Siang ini sudah kusampaikan apa yang aku butuhkan, aku butuh kamu hadir dan menjadi hangat karena cinta itu kata kerja, tidak bisa kalau hanya sepihak saja yang sibuk menghadirkan kasih sayang. Aku tau love languangemu act of service, dan menurutku salah satu act of service adalah pelukan, aku hanya butuh pelukan setiap hari

Entah bagaimana, aku merasa saat - saat ini pekerjaan sudah menyita begitu banyak ruang di pikiranku, aku hanya butuh istirahat dalam pelukan yang hangat. Seandainya saja engkau paham rasanya jadi aku 

Bukan saya tidak bersyukur

 Saya bukannya tidak bersyukur, tapi pekerjaan ini sudah menggerogoti kewarasan saya. Ya, saya sakit hati atas pembiaran orang-orang yang tidak capable untuk tetap bekerja, di dalam job description saya tidak dijelaskan mengenai kewajiban saya harus berurusan dengan orang orang-orang yang tidak capable

Segala hal yang tidak efisien itu impact kepada pemborosan, dan yang paling menyebalkan adalah kita harus memperbaiki kerusakan2 yang ditimbulkan oleh orang2 ini. Gak, saya gak bisa terus menerus positive thinking mengenai ini, terus menerus harus memaafkan, berlapang dada. Apa? karena menjadi leader artinya harus menjadi pelayan? servant leader? saya sadar sekali being leader is being a servant, tetapi yang kita layani ini paham tidak yang mereka butuhkan? diberikan yang dibutuhkan kok tidak paham cara menggunakannya? jadi saya harus terus sabar saja?

Lebaran tidak lagi menarik

 Hari ini umat muslim di Indonesia merayakan Hari Raya Idul Fitri 1445 Hijriah, sejak menikah saya selalu merayakan idul fitri di rumah mertua. Dulu hari lebaran selalu exciting untuk saya, karena akan ada moment saya bertemu dan berkumpul dengan keluarga saya maupun keluarga suami, dan menurut saya berkumpul dengan keluarga adalah salah satu cara kita collecting emotional saving

Bapak saya meninggal tahun 2012, saat itu boleh dikatakan lebaran mulai menurun kadar exciting saya, apalagi ketika ibu meninggal 2019, hilanglah sudah semangat saya merayakan lebaran. Kalau memungkinkan untuk saya bekerja di hari lebaran, saya akan lebih pilih bekerja di hari itu sampai kelelahan dan tertidur

Bukan saya tidak ikhlas menerima kepergian orang tua, tetapi entah bagaimana, lebaran tidak lagi menarik untuk saya. Sepi dan hampa

Tahun kemarin ada kejadian yang kurang mengenakkan terjadi kepada saya dengan keluarga suami, sudah lah saya sudah kurang tertarik untuk merayakan lebaran, ditambah lagi dengan kejadian tersebut, asli mati rasa sudah. Hari ini pun saya lalui dengan datar, ya saya berkumpul dengan keluarga suami, tetapi tidak ada lagi kehangatan yang saya rasakan, saya hanya ingin momen berkumpul ini segera berlalu

Coba tanyakan kepada teman2 mu yang sudah ditinggal pergi orang tuanya, apakah lebaran masih menarik untuk mereka?

Akhirnya saya gunakan sisa waktu hari ini untuk olahraga dan bekerja, terima kasih diriku sudah mampu menahan diri melewati hari lebaran ini, puk puk diri sendiri. kamu hebat!

I'm the man

Di Indonesia masih menjadi common practice bahwa perempuan hidupnya akan lebih baik jika menemukan pasangan hidup yang baik, bahwa pernikahan dipercaya sebagai cara untuk meningkatkan derajat

Pendapat tersebut tidak sepenuhnya salah tapi tidak sepenuhnya benar juga, menurut saya kita semua, laki-laki maupun perempuan seharusnya berupaya menjadi versi terbaik dirinya agar menjadi seseorang pribadi yang dewasa dan utuh untuk pasangannya. Sebagaimana ajaran islam, bahwa kita diajarkan untuk mencari pasangan yang sekufu, apa arti sekufu? sekufu artinya sepadan, sesuai dan seimbang, agar dalam hubungan pernikahan menjadi sakinah mawaddah warahmah, karena semuanya berawal dari sekufu

contoh gampangnya, saya bukan penghafal alquran, jika saya menginginkan untuk menikah dengan penghafal al quran setidak nya saya harus mulai belajar secara serius mengenai hafalan Alquran, dan mungkin setelah menikah saya harus siap dengan konsekuensi waktunya akan tersita banyak untuk menghafal dan menjaga hafalan Alquran

Untuk saya, lebih mudahnya sih, kita berusaha sebaik2nya menjadi versi terbaik, percaya saja Allah akan mengirimkan pasangan dalam versi terbaiknya untuk kita

Jika dulu ibu saya memberi nasihat, jadilah perempuan terampil agar nantinya bisa menikah dengan laki-laki terpelajar, cerdas dan kaya, maka sebaliknya saya berusaha menjadi terpelajar, cerdas dan (cukup) kaya. so i'm the man ibuk