Sejatinya doa yang belum terjawab juga rejeki

Ceritanya dulu sekitar tahun 2014 an ketika covid belum menyerang dan kami (saya dan suami)masih WFO setiap hari, kami melewati rute dari rumah ke pintu masuk tol yang melewati jalan otonom gitu, nah di dekat perempatan sebelum masuk tol kami melewati rumah asri yang bener-bener memenuhi kriteria rumah idaman kami. Rumah dua lantai, ada pohon mangga didepan rumah, parkiran lumayan luas. Jadi tiap lewat depan rumah tersebut kami shalawatin terus.

Minggu lalu- 8 tahun kemudian- ketika saya WFO, saya melewati rumah itu lagi, rumah itu tidak berpenghuni sekarang dan sudah ada banner info rumah dijual. Saya cerita sama suami bahwa rumah impian kami itu dijual, setelah kami timbang2 sepertinya kami sudah tidak begitu menginginkan rumah tersebut, karena dalam rentang waktu 2014 sampai saat ini kami sekeluarga mulai enjoy hidup di cluster perumahan kami, kami mulai ikut kegiatan warga, anak saya juga banyak teman sepermainan, Alhamdulillah segala sesuatu berjalan lancar dan rejeki tambahannya adalah tetangga2 kami adalah orang-orang baik yang saling menjaga satu sama lain. Bahkan dalam kondisi mendesak, saya bisa meninggalkan anak saya sendiri di rumah tetapi minta tolong ke tetangga saya untuk sesekali mengawasi. 

Ditimbang2 kembali rumah impian tersebut agak jauh juga dari masjid/musholla, tetangga dekat nya adalah kios2, dan jalan di depan rumah adalah jalan lalu lintas menuju jalan tol yang dipastikan selalu ramai, jadi anak saya hanya akan bisa main di halaman, tidak mungkin main sepedaan keluar rumah. sementara di lingkungan sekarang, anak saya bisa dengan bebas bermain di luar rumah dengan teman2nya, bonusnya saya juga punya pohon mangga, di depan dan disamping rumah.

Jadi kesimpulannya adalah dengan belum terjawabnya doa juga rejeki, mungkin ketika kami menginginkan rumah impian itu karena kami belum menyadari nyamannya hidup di lingkungan yang sekarang, jadi kami pikir pindah rumah adalah solusi. Jadi butuh 8 tahun untuk kami akhirnya bisa menikmati suasana di perumahan ini. 

Untuk teman2 yang doanya belum terjawab, yakin dan percaya bahwa doa yang belum terjawab sejatinya adalah rejeki. 

Selamat menunaikan ibadah puasa Ramadhan, semoga Allah berkahi puasa kita dan kita mendapatkan kebahagiaan lahir batin, Aamiin

Kesehatan mental tanggung jawab siapa?

 Setahun terakhir ini orang2 mulai aware dengan kesehatan mental, jadi mulai banyak lah yang bikin IG story dengan caption healing 😁

Sebenernya menjaga kesehatan mental itu tanggung jawab siapa? Saya saat ini bekerja sebagai cool leee di perusahaan swasta, jadi saya bahas kesehatan mental di lingkungan pekerja. Ada beberapa hal yang menjadi penyebab terganggungnya kesehatan mental (sumber https://www.djkn.kemenkeu.go.id/artikel/baca/13552/Kesehatan-Mental-di-Lingkungan-Kerja.html)
1. Komunikasi dan sistem manajemen yang buruk
2. Tujuan organisasi dan tugas-tugas yang kurang jelas
3. Rendahnya dukungan kepada dan antar pegawau
4. Jam kerja tang terlalu mengikat hingga menggangu kehidupan pribadi
5. Terbatasnya ruang berekspresi
6. Eksklusivitas keputusan atau kesempatan berpartisipasi hanya pada segolongan pegawai saja
7. Penugasan yang tidak tepat bagi kompetensi individu pegawai
8. Perisakan antar pegawai

Menjawab pertanyaan diatas yang paling bertanggung jawab atas kesehatan mental adalah diri sendiri, artinya kita harus memahami diri kita sendiri, kebutuhan jiwa kita dan bagaimana cara memenuhinya. Karena jika mental kita sehat, gelombang gangguan dalam bentuk apapun kita tidak akan terganggu karena fully aware dengan diri sendiri

Beberapa hal yang bisa dicoba untuk menjaga kesehatan mental 

1. Membiasakan pola hidup sehat
Saya sendiri sedang mulai berupaya hidup sehat dengan olahraga dan makan secara terkontrol, tapi      godaannya itu kalau sedang bisnis trip, itu kuliner melambai2 minta dicoba, segala oleh2 diborong,        daaan selalu tidur telat. Tapi once balik ke rumah langsung diupayakan untuk back on track sih. Ada     tambahan bonus yang saya rasakan, dengan berolahraga itu kadang2 saya dapat ide2 yang pop up di   kepala, entah ide itu tentang urusan rumah, urusan anak atau urusan kerjaan. jadi kadang2 ditengah2 gowes saya akan berhenti dan put notes di hp saya sebelum ide2 itu menguap

2. Meningkatkan skill
 Tentang hal ini saya juga sudah pernah coba, jadi ceritanya diakhir 2020 tiba2 muncullah ide di kepala saya untuk meneruskan pendidikan, apalagi setelah lihat temen2 yang lain nerusin sekolah sambil kerja bisa dan Pak Su juga mendukung 100%, selain itu anak sudah gede kan. nah akhirnya apply lah saya di salah satu universitas negeri di Indonesia, boleh dibilang Ivy leaguenya Indonesia lah ya. Setelah test alhamdulillah dinyatakan lulus, but wait itu bukan challenge sebenarnya. Setelah pengumuman, mulailah penerimaan mahasiswa baru dilakukan online sebelum periode matrikulasi. Naah ini dia challenge sebenarnya, jadi karena ini level pendidikannya S2, systemnya itu banyakan diskusi artinya saya sudah harus baca bahan dan memahami (helloo saya lulusan S1 angkatan jadul, angkatan sheila on 7 baru debut wkwk) ga update lah ya dengan system perkuliahan, dan angkatan barengan saya ini anak2 new blood, baru lulus berapa tahun, energinya kaya kelinci energizer. Gimana rasanya jadi emak2 turun mesin dua kali bergabung di squad kaya gitu, i tell you mual2 tiap kali mau kuliah. Jadi matrikulasi itu ada 4 mata kuliah, tiap mata kuliah itu bahannya 2 buku, tiap buku tebelnya sampe 300 lembar berbahasa inggris. Kuliahnya di weekend start malam sabtu jam 7 malem sampe jam 10 malam, lanjut sabtu jam 8 pagi sampe jam 7 malam. Ngebul gak tuh otak!  jadi ceritanya jalan sebulan, everything is ancur2an, masih bisnis trip ke lapangan, baca email sampe jam 11 malem, lanjut baca buku, tidur ga sampe 5 jam. At the end saya angkat bendera putih gan hehehehe, kelar perjuangan saya. buat teman2 yang kuliah sambil kerja, two thumbs up anda semua pejuang tangguh

3. Meminta pertolongan
Masing2 individu itu berbeda, jadi jika orang lain mampu melakukan sesuatu hal belum tentu kita bisa, comparation is the thief of joy. Jadi jika merasa tidak sehat secara mental, cari pertolongan!

4. Berpikiran terbuka
poin 4 ini termasuk secara sadar menerima diri sendiri apa adanya, bukan berarti tidak memperbaiki diri ya, istilahnya itu accept your flaw. ga kalah penting juga mengisi emotional savingmu, jika emotional savingmu full, kamu happy dengan diri sendiri, apapun yang terjadi di luar ya kamu tetep jadi diri kamu sendiri

Kata pepatah jawa, kudu biso rumongso, ojo rumongso biso. yen kaliren madango 😁

Have a nice weekend, ayo turuuu


Konsisten itu berat juragan!

Dulu, saya pernah berjanji pada diri sendiri bahwa saya akan all out di setiap kesempatan, akan melakukan effort terbaik dalam setiap hal. Tetapi yang saya tidak tahu, bahwa konsisten dan persistent itu butuh tenaga dan somehow makin kesini makin ada umur jadi upaya untuk tetap maksimal di setiap kesempatan itu jadi berat. 

Misalkan upaya konsisten dengan schedule pagi, review kerjaan sendiri sebelum kerjaan team. endingnya start buka laptop pagi langsung checking kerjaan team, kerjaan sendiri malah jadi ke handle malem, dan ini makin lama makin dragging. Sampe akhirnya saya paksakan kembali ritme seperti biasa, dan itu butuh effort, bangun pagi itu kepala sudah penuh rencana, mau ini itu. Daan lagi-lagi, namanya perempuan, agenda banyak, cita-cita banyak tapi waktu mepet. udahlah sekian hehehe

Seperti nulis di blog ini, dulu saya pengennya konsisten tiap minggu bikin tulisan, awalnya masih semangat tuh eh lama-lama terkubur dengan aktivitas, dan puncaknya saya ga posting apapun dalam beberapa tahun, ini parah banget.

Konsistensi itu bisa membantu kita mencapai goal besar, karena konsistensi itu seperti kita mengayuh sepeda, akhirnya akan sampai juga tapi kita butuh melakukannya terus menerus. Hobi baru yang sedang saya coba setahun terakhir ini bersepeda, yaa kurang lebih sama dengan yang diposting di media sosial, tetapi sepeda saya ga sekeren itu ehe. Nah pelajaran konsistensi saya terapkan dalam hal bersepeda, dulu awalnya saya paling jauh bersepeda itu 7 Km, dan itu berasa udah olahraga banget, ternyata makin sering dilakukan makin banyak perbaikan. Ga ngos2an lagi sepedaannya, kaki gak lemes, postur mulai bener dan speed mulai meningkat. The good news is, sekarang saya mulai terbiasa bersepeda dengan jarak 30 - 40 Km, ini luar biasa buat saya sendiri. cita-citanya sih sepedaan dengan jarak up to 100 Km, semoga tercapai

Kita semua bisa setting goals, dan split dalam goals yang kecil dan do-able. coba lakukan secara konsisten, insyaAllah tercapai goalsnya (ini menasehati diri sendiri juga)

So have a nice weekend folks


How to deal with Galauers team member

Pernah ga kita bekerja dalam satu team bersama dengan seseorang yg galau almost all the time? ini annoying banget sih
Jadi si galauers ini bekerja berdasarkan mood, we cant expect the consisten result of their job, yang impactnya KPInya bakal terimpact juga. kalau KPInya hanya impact ke dia sendiri sih gak papa ya. tapi kalau impact ke keseluruhan team ini yang ribet

Jadi gimana sih kita bisa kerja bareng dengan si galau ini? saya punya beberapa tips, mungkin tidak selalu efektif tapi worth to try lah

1.  Diskusi 

Libatkan si galau ini untuk menentukan strategi untuk mengejar target, stratagi action yang possible        dan do - able. Dalam sesi diskusi ini jangan ada judging, semua ide kita tampung dan di elaborate,         tanamkan dalam pikiran kita bahwa tidak ada ide yang buruk, semua ide bisa kita gali lebih detail         dan bahas  secara detail

2. Konfirmasi

Hasil diskusi di point 1 , di tuangkan dalam bentuk email yang ditujukan kepada semua peserta             diskusi, jadi ada jejak dari hasil diskusinya

3. Monitor

Eksekusi dari ide tersebut di monitor secara regular, misal 1 minggu sekali, 2 minggu sekali,                 tergantung urgensinya

4. Corrective action

Jika ternyata eksekusi ini tidak sesuai dengan plan, dan si galau ini mulai ngeles, ajak ngobrol dan diskusikan plannya kembali

Tentu kita semua punya batas kesabaran atas hal2 seperti ini, tapi pastikan bahwa kita menyampaikan keberatan kita dan kekecewaan kita serta sediakan ruang untuk perbaikan sebelum sampai akhirnya kita sampai ke level punishment

Good luck!





Whose problem is it anyway?

Continuing my previous post

From the mouse trap story:
The mousetrap didn't seem like a threat to the Hen, the Goat or the Cow. But in the end it affected all of them and the mouse was spared

Aren't such situation common in real life? In your division, organization and team, there will always be a problem. The question is who owns the problem anyway?

Whenever something happens somewhere, no matter how remote, insignificant or improbable, it has potential to affect us. When a problem arise, its a problem for everyone to solve, don't ignore it, because in a team somebody's problem means everybody's problem. When small error happen it could become bigger and endanger the whole team.

Ownership is a habit that leads to leadership.You can be a true leader only if you are responsible and accountable for the things you ought to deliver. But the borders of responsibility do not stop at the leaders doorstep, in the other hand a leader is the one who take initiative without directive.

The willingness to step outside your comfort zone and take responsibility not only stretches your potential, but also increases your value to whichever organization you are associated with.

This post taken from Leadership Lesson from The Mousetrap book by Manoj Vasudevan



Leadership Lessons From The Mousetrap

I believe you could learn some lesson from this story

Once upon a time there lived a poor farmer. He lived in a small house, along with his wife. One day, the poor farmer bought a mousetrap. 

The mouse of the house was terrified. "Oh, what should i do?" he shrieked. He panicked and run out into the farm where he saw the Hen, the Goat and the Cow. 

He rushed to the Hen screaming, "Hen! Hen! There is a mouse trap in the house! There is a mouse trap in the house!"

The Hen said, "Mr. Mouse, I understand that this is a grave concern for you, but it is not my problem."

The Mouse rushed to the Goat and said, "Mr. Goat, Mr. Goat! There is a mouse trap in the house! There is a mouse trap in the house!"

The Goat replied, " Ho ho ho. It must be terrible for you. I am sorry to hear of your troubles, but it is not my problem."

The Mouse rushed to the Cow. In tears he whimpered, " Oh, Cow, Oh, Cow, Oh, Holy Cow, there is a mouse trap in the house! There is a mouse trap in the house!"

The Cow merely laughed, "Ha ha, have you ever heard of a cow being trapped in a mouse trap? " Ha ha ha, I am sorry for you, but don't get me involved. It is not my problem."

You see, a mouse trap was in the house.

Everyone heard about it. All of them ignored it because it was not their problem.

That night there was a loud BANG! Something got trapped in the mousetrap. The farmer's wife was so happy. "Oh finally, I got that mouse!". She went to pick up the mouse. It was pitch dark. She couldn't see what was trapped in the mouse trap. 

A snake had gotten itself trapped in the mouse trap. As soon as she stooped down, the snake bit her. Upon hearing his wife cry out in pain, the farmer rushed into the kitchen with a lantern. He saw the snake and killed it, but the damage was already done.

The farmer wife feel ill with a fever. The poor farmer didn't know what to do. He slaughtered the Hen and made chicken soup for his wife. 

The mouse was relieved. He said to the Goat and the Cow, "I told you so. It is your fault."

The Goat replied in anger, "It's your fault! If there weren't a mouse, there wouldn't be a mousetrap in the house!"

The next day many friends and relatives came to visit the farmer's wife. The poor farmer didn't have food to feed them. So he slaughtered the Goat and fed his guests.

Unfortunately, two days later the farmer's wife passed away. Many people came to her funeral. To feed them, the poor farmer slaughtered the Cow.

After this sad turn of events, the farmer was in a state of shock. He had aimed to kill the mouse, but in the process he lost everything he had except for his home and farm. He regretted his decision to buy the mousetrap. The farmer become sad and lonely and depressed. The depression took a toll on his life. He didnt have any interest or motivation to work. He was living in regret without sleep or energy. He didn't find any purpose in his life anymore.

Three months later, the poor farmer passed away. 

Taken from Leadership Lesson From The Mousetrap by Manoj Vasudevan

Gagal itu biasa

Teruntuk kamu yang sedang kecewa

Kasih advice itu gampang, ngejalaninnya yang susah. Sometimes dalam hidup ini seringkali kita dikecewakan oleh ekspektasi kita sendiri, yang bikin sakit hati sebenernya diri sendiri. Ngarep sampe ke ujung langit endingnya blah gitu doang. Sering banget kamu kasi advice, tapi ketika hal yang sama terjadi ke dirimu sendiri, see kecewa kan? memanage kekecewaan itu ga gampang, rasanya kaya patah hati. Galau beberapa saat, dan tetep mikirnya kok bisa ya? kok bisa gitu ya? kok ga sesuai perkiraan ya

Hmm couldn't give any other advice, just accept it and move on. Someday kamu bakal ketawa kok nginget kejadian ini

Ikhlas untuk semua doa yang belum terjawab, untuk nasib yang belum berpihak, untuk usaha yang belum berhasil