Be thankful for everything

 Pernah gak kepikiran bahwa kita perlu juga bersyukur atas cobaan yang hadir dalam hidup, mungkin dalam bentuk kesulitan, kata-kata orang yang kurang nyaman di dengar atau perasaan yang timbul dari suatu peristiwa, dianggap tidak ada dan disingkirkan. Somehow rasa itu menjadi motivasi yang lebih kuat daripada motivasi- motivasi positif yang lain

Coba aja diinget-inget, kalau saja waktu itu tidak direndahkan, mungkin kita tidak berusaha sangat keras, kalau saja waktu itu kita kalah dan kekalahan kita di "terima" dianggap bahwa ini hanya salah satu proses ya kita tidak berubah, bakal gitu gitu aja

Pasti ada satu masa dalam hidup kita direndahkan, yang traumanya akan sulit sekali hilang bahkan bertahun-tahun kemudian, tapi in positive way bakal jadi bahan bakar yang bisa membuat kita run extra miles, so be thankful for that

Bersama tapi tetap sepi

aku berjanji untuk tidak mengulangi kesalahan ibuku, ibuku memendam segala perasaan sedih dan marahnya, sampai kemudian kesedihan itu membuatnya sakit yang memjadikannya tidak menikmati masa senja, masa dimana seharusnya ibu menghabiskan waktu bersama keluarga dalam kondisi bahagia, tetapi ibu melewati dalam kondisi sakit raga dan batinnya

Maka sekarang jangan kaget kalau aku selalu mencari cara menyampaikan perasaanku, apa yang aku butuhkan. Siang ini sudah kusampaikan apa yang aku butuhkan, aku butuh kamu hadir dan menjadi hangat karena cinta itu kata kerja, tidak bisa kalau hanya sepihak saja yang sibuk menghadirkan kasih sayang. Aku tau love languangemu act of service, dan menurutku salah satu act of service adalah pelukan, aku hanya butuh pelukan setiap hari

Entah bagaimana, aku merasa saat - saat ini pekerjaan sudah menyita begitu banyak ruang di pikiranku, aku hanya butuh istirahat dalam pelukan yang hangat. Seandainya saja engkau paham rasanya jadi aku 

Bukan saya tidak bersyukur

 Saya bukannya tidak bersyukur, tapi pekerjaan ini sudah menggerogoti kewarasan saya. Ya, saya sakit hati atas pembiaran orang-orang yang tidak capable untuk tetap bekerja, di dalam job description saya tidak dijelaskan mengenai kewajiban saya harus berurusan dengan orang orang-orang yang tidak capable

Segala hal yang tidak efisien itu impact kepada pemborosan, dan yang paling menyebalkan adalah kita harus memperbaiki kerusakan2 yang ditimbulkan oleh orang2 ini. Gak, saya gak bisa terus menerus positive thinking mengenai ini, terus menerus harus memaafkan, berlapang dada. Apa? karena menjadi leader artinya harus menjadi pelayan? servant leader? saya sadar sekali being leader is being a servant, tetapi yang kita layani ini paham tidak yang mereka butuhkan? diberikan yang dibutuhkan kok tidak paham cara menggunakannya? jadi saya harus terus sabar saja?

Lebaran tidak lagi menarik

 Hari ini umat muslim di Indonesia merayakan Hari Raya Idul Fitri 1445 Hijriah, sejak menikah saya selalu merayakan idul fitri di rumah mertua. Dulu hari lebaran selalu exciting untuk saya, karena akan ada moment saya bertemu dan berkumpul dengan keluarga saya maupun keluarga suami, dan menurut saya berkumpul dengan keluarga adalah salah satu cara kita collecting emotional saving

Bapak saya meninggal tahun 2012, saat itu boleh dikatakan lebaran mulai menurun kadar exciting saya, apalagi ketika ibu meninggal 2019, hilanglah sudah semangat saya merayakan lebaran. Kalau memungkinkan untuk saya bekerja di hari lebaran, saya akan lebih pilih bekerja di hari itu sampai kelelahan dan tertidur

Bukan saya tidak ikhlas menerima kepergian orang tua, tetapi entah bagaimana, lebaran tidak lagi menarik untuk saya. Sepi dan hampa

Tahun kemarin ada kejadian yang kurang mengenakkan terjadi kepada saya dengan keluarga suami, sudah lah saya sudah kurang tertarik untuk merayakan lebaran, ditambah lagi dengan kejadian tersebut, asli mati rasa sudah. Hari ini pun saya lalui dengan datar, ya saya berkumpul dengan keluarga suami, tetapi tidak ada lagi kehangatan yang saya rasakan, saya hanya ingin momen berkumpul ini segera berlalu

Coba tanyakan kepada teman2 mu yang sudah ditinggal pergi orang tuanya, apakah lebaran masih menarik untuk mereka?

Akhirnya saya gunakan sisa waktu hari ini untuk olahraga dan bekerja, terima kasih diriku sudah mampu menahan diri melewati hari lebaran ini, puk puk diri sendiri. kamu hebat!

I'm the man

Di Indonesia masih menjadi common practice bahwa perempuan hidupnya akan lebih baik jika menemukan pasangan hidup yang baik, bahwa pernikahan dipercaya sebagai cara untuk meningkatkan derajat

Pendapat tersebut tidak sepenuhnya salah tapi tidak sepenuhnya benar juga, menurut saya kita semua, laki-laki maupun perempuan seharusnya berupaya menjadi versi terbaik dirinya agar menjadi seseorang pribadi yang dewasa dan utuh untuk pasangannya. Sebagaimana ajaran islam, bahwa kita diajarkan untuk mencari pasangan yang sekufu, apa arti sekufu? sekufu artinya sepadan, sesuai dan seimbang, agar dalam hubungan pernikahan menjadi sakinah mawaddah warahmah, karena semuanya berawal dari sekufu

contoh gampangnya, saya bukan penghafal alquran, jika saya menginginkan untuk menikah dengan penghafal al quran setidak nya saya harus mulai belajar secara serius mengenai hafalan Alquran, dan mungkin setelah menikah saya harus siap dengan konsekuensi waktunya akan tersita banyak untuk menghafal dan menjaga hafalan Alquran

Untuk saya, lebih mudahnya sih, kita berusaha sebaik2nya menjadi versi terbaik, percaya saja Allah akan mengirimkan pasangan dalam versi terbaiknya untuk kita

Jika dulu ibu saya memberi nasihat, jadilah perempuan terampil agar nantinya bisa menikah dengan laki-laki terpelajar, cerdas dan kaya, maka sebaliknya saya berusaha menjadi terpelajar, cerdas dan (cukup) kaya. so i'm the man ibuk

Tentang ibu

 Jika kamu diberi kesempatan bertemu dengan ibumu yang saat ini seumuran dengan kamu apa yang akan kamu sampaikan?

Aah dapat pertanyaan seperti ini jleb sekali ya, jadi langsung mikir panjang dan dalam, menerawang mengingat semuanya. Ibu saya meninggal tahun 2019, ibu saya melalui masa2 motherhood nya penuh perjuangan, dan salah satu penyesalan saya adalah saya merasa belum cukup membahagiakan ibu saya

Jadi ini yang mau saya sampaikan padamu ibu

Ibu, ibu adalah ibu luar biasa, ibu hanya lulusan SMP tapi ibu bisa membesarkan 7 anak dan menjadikan anak2 ibu menjadi orang-orang yang kuat, tidak gampang mengeluh, tidak menye-menye dan tetap baik kepada orang orang yang sudah menyakiti

Ada satu ucapan ibu yang membekas di hatiku, jadilah orang pintar yang dibayar karena kemampuan otaknya bukan ototnya, karena orang yang dibayar kemampuan otaknya akan dapat bayaran lebih tinggi dari orang yang dibayar karena kemampuan ototnya

Ibu, kalau ibu kecewa dengan bapak jangan dipendam, sampaikan perasaanmu karena laki-laki itu tidak peka bu, bapak tidak tahu ibu marah kecuali ibu tidak mau shalat berjamaah, barulah bapak tahu kalau ibu sedang marah

Ibu, kalau keluargamu menyakitimu menangislah, berbagi duka dengan kami anakmu, karena banyak cerita kecewamu yang kami baru tahu setelah engkau berpulang dan ini meninggalkan penyesalan yang dalam karena kami tahu disakiti orang-orang terdekat itu sangat menyakitkan

Ibu, terima kasih untuk semuanya, untuk keyakinannya bahwa kami semua bisa berhasil mandiri tidak bergantung pada orang lain dan untuk semua doamu yang mulai terjawab

Tangerang, 26 Dec 2023

Tanda tanda menua

Haaa kelahiran 80 an relate lah tanda-tanda menua yang mulai dialami, yessss blurry eyes, kalo maghrib badan rasanya sakit, tidur ga bisa nyenyak, simply kita menua bestie

2 minggu lalu saya meeting bi weekly, meetingnya cukup penting dan saya harus menyimak presentasi, tau gak presentasi yang dishare di layar berjarak ga sampe 10 meter ga kebaca sama sekali .......*nangis di pojokan, saya dari dulu paling anti pake kacamata, bukan karena biar dikira matanya sehat, enggaaak sama sekali, saya itu orangnya lupaan, kalo pake kacamata bisa dibayangin lah bakal kelupaan terus. kalo kepala bisa dilepas mungkin juga bakal kelupaan naruh dimana

Endingnya akhirnya sama misua dianterin lah ke dokter mata buat cek mata, alhamdulillah yaa cylinder 0,75 dan akhirnya pesen lah kacamata. amazingly setelah pake kacamata saya ngaca daaan astaghfirullah itu pori2 kenapa gede banget, lhaaa setelah kacamata kebutuhan bergeser ke skincare hahahah

Tanda tanda nyata menua adalah mulai konsisten olahraga dan bangga banget bisa olahraga, kalau bisa di story berulang2 lah itu strava nya, obrolan sama teman juga seputar olahraga, ah elah wkwk

Jadi demikian lah tanda tanda menua saya ya, terima kasih sudah baca postingan gak guna ini

Mendito

 2 minggu yang lalu terjadi hal yang cukup membuat hidup saya berhenti sesaat, No saya tidak sedang sekarat, tetapi masalah itu membuat saya memikirkan kembali keberadaan saya di dunia ini. Masalahnya cukup pelik, menguras waktu dan energi setiap orang yang terlibat di dalamnya dan masalah ini melibatkan banyak sekali orang di dalamnya.

Dalam kondisi emosi, seringkali kita kehilangan kontrol terhadap apapun yang akan kita lakukan, kita cenderung mengikuti ego hanya agar pihak yang berseberangan dengan kita mengakui kebenaran versi kita, tetapi jarang sekali kita berpikir apakah tindakan yang kita lakukan menyakiti diri sendiri bahkan menyakiti manusia lain. Dalam kondisi emosi, mudah sekali kita terbutakan oleh situasi, dari kondisi kita terdzolimi menjadi mendzolimi, Naudzubillahi min dzalik

Sedikit yang kita tahu bahwa emosi akan membakar amalan kita seperti api yang membakar kertas, hanya sekejap kemudian hilang dan habis tidak bersisa, akhirnya bekal akhirat kita, tabungan amal kita kembali kosong

Dalam kondisi emosi, usahakan sebisa mungkin untuk diam, tidak berucap apapun, tidak bertindak apapun dan dekatkanlah diri kepada Allah. Karena tidak semua hal mampu kita selesaikan, tidak semua hal mampu kita jelaskan, tindakan ini yang dalam istilah jawa disebut Mendito. Mendito itu intinya kita memisahkan diri dari riuhnya dunia, menarik diri untuk dapat memahami diri sendiri lebih dalam dan ini sangat membantu kita memahami esensi permasalahan yang kita alami. Dengan mendito kita punya waktu untuk mencerna apa yang sesungguhnya terjadi pada akhirnya kita akan menemukan akar permasalahannya.

Karena pada akhirnya hidup itu sementara, kita tidak bisa mengontrol segala hal di luar diri kita. pilihannya kita bereaksi dan mau dimanipulasi hal yang mendatangi kita termasuk masalah atau kita mau menarik diri sebentar dan menyelami pikiran kita sendiri, menimbang2 tindakan kita lebih banyak manfaatnya atau mudharatnya, simpelnya seperti melihat diri sendiri tapi dari kacamata orang lain, karena kita kita emosional kita itu menyatukan diri dengan perasaan marah, ketika kita mengambil jeda, kita melihat lagi apa yang membuat kita marah, menalar lagi perasaan marah dan itu sangat membantu

Saya mencoba mempraktekan ini dan menurut saya, ini menenangkan hati saya, semua masalah tidak langsung selesai tentunya, tapi saya punya kelapangan hati untuk menerima yang terjadi. Setidaknya ketika kita mampu memahami diri kita, kita mampu mengendalikan diri dalam melewati permasalahan hidup kita

Tangerang, Syawal 1444 H

Lampu teplok dan tagihan listrik musholla

 Saya mendapatkan cerita ini dari seseorang yang menurut saya inspiratif, bukan sosoknya tetapi ceritanya

Ceritanya teman saya ini dilahirkan di lingkungan yang sederhana dan religius. Sholat wajib sebisa mungkin dilakukan di musholla, ayahnya mendidiknya dengan ajaran agama yang kuat. Salah satu yang diajarkan adalah sebisa mungkin tiba di musholla sebelum imam memulai shalat jamaah, jadi sudah ada di musholla sebelum imam takbiratul ihram. 

Suatu waktu, teman saya ini shalat maghrib di musholla seperti biasanya, tetapi karena saat itu imam sudah memulai shalat teman saya ini terburu-buru masuk mushala tanpa disadari kepalanya menyundul lampu teplok, yang belum tau lampu teplok saya share di foto dibawah ini, lampu teplok ini menggunakan minyak tanah sebagai bahan bakarnya. Karena jaman dulu belum ada lampu emergency, maka lampu teplok inilah yang berfungsi menjadi lampu emergency jika terjadi mati listrik. Singkat cerita, karena kepala teman saya ini menyundul lampu teplok, yang terjadi sesuai ekspektasi kita, lampu teplok jatuh, minyak tanah tumpah dan berantakan. Saat itu teman saya sangat ketakutan dan kebingungan, yang ada di pikirannya bagaimana mengganti lampu teplok ini, karena kondisi keluarganya pun hidup serba berkekurangan. 

Sejak saat itu teman saya tidak lagi shalat dimushala dengan berbagai alasan, sampai akhirnya tiba saatnya merantau. Beberapa tahun merantau, tiba saatnya teman saya kembali ke kampung halaman, dan kejadian lampu teplok pecah tersebut sudah lama terlupakan. Tetapi teman saya bertekad sebisa mungkin menggantinya. Surprisingly, teman saya shalat di mushala yang sama, mem foto Kwh meter milik mushala dan sejak saat itu teman saya diam-diam membayar tagihan rekening listrik mushala setiap bulannya, menurutnya tindakannya ini membuat hatinya tenang karena sudah memperbaiki kerusakan yang ditimbulkannya dulu. btw, teman saya meminta saya berjanji untuk tidak menceritakan hal ini kepada siapapun, tetapi saya sudah ijin untuk memposting cerita ini di blog saya karena menurut saya ini inspiratif untuk saya.

MasyaAllah begitulah Allah memberikan hikmah atas suatu kejadian, hikmah yang tidak serta merta hadir ketika sesuatu hal terjadi, tetapi bertahun tahun kemudian. Semoga Allah mudahkan langkah kita semua menuju kebaikan, mendapatkan hikmah Ramadhan, diberikan usia untuk bertemu Ramadhan tahun depan dan mendapatkan keberkahan Idul Fitri

Kudus, Ramadhan 1444 H



Apakah saya lebih beriman dari mereka?

 Dulu, awal saya pindah ke ibukota, banyak hal yang terjadi di ibukota yang menurut saya nyeleneh dan tidak sewajarnya. istilahnya culture shock ya. Contoh hal-hal yang menurut saya aneh diantaranya adalah saya melihat perempuan berjilbab tetapi merokok, atau teman saya yang postingan instagramnya religius tetapi di platform media sosial lain dia posting sedang dugem, ada juga teman saya muslim tetapi memelihara anjing.

Nah hal-hal tersebut membuat saya sibuk menghakimi, setiap postingan saya komentari dan saya sibuk membahas kelakuan orang-orang yang menurut saya nyeleneh itu dengan keluarga terdekat saya. Lambat laun saya menyadari sepertinya bukan orang-orang itu yang nyeleneh, tapi mungkin saya yang katrok ya. Saya pindah dari satu lingkungan yang budayanya berbeda kemudian pindah ke ibukota yang berisi orang-orang dengan background dan tingkah berbeda

Saat itu saya merasa bahwa saya ini lebih beriman dari mereka, saya lebih "benar" dari mereka semua. Disinilah saya belajar, bahwa apa yang tampak belum tentu apa yang terjadi. Mungkin orang-orang yang saya hakimi beribadah lebih rajin dari saya, bersedekah lebih besar dari saya, atau mereka beriman dan yakin kepada Allah lebih baik dari saya. Sementara saya sibuk menghakimi mereka dan sibuk membuang waktu mereview apa yang mereka lakukan

Tidak masalah sebenarnya menghakimi asalkan disimpan dalam hati saja dan jangan berubah sikap, karena kitapun belum tentu benar di mata orang lain. berusaha menjadi manusia lebih baik setiap harinya, itu saja cukup

Ternyata cerita kehidupan saya menjadi inspirasinya

Anak pertama saya yang saat ini beranjak remaja sering bertanya bagaimana masa kecil saya, saya dan suami pun banyak bercerita tentang masa kecil kami. Banyak hal-hal yang kami alami dan sudah tidak ada di masa kini, seperti uang saku 100 rupiah yang cukup untuk beli nasi dan minuman. 

Secara tidak langsung anak saya membandingkan kehidupannya dan kehidupan masa kecil saya. Adalah wajar setiap orang tua berusaha memberikan hal-hal yang dulu tidak didapatkan saat kecilnya, begitupun saya. Saya berusaha semampu saya agar anak saya memiliki privilege yang tidak saya miliki dulu. Dalam beberapa cerita anak saya meminta saya berhenti menceritakan kehidupan masa kecil saya karena menurutnya kehidupan saya berat dan menyedihkan. Entah bagaimana, saya tidak merasa seperti itu, bapak saya guru sekolah swasta dengan gaji 500 ribu per bulan, menghidupi 7 anak dan saya anak ke 4. disamping sebagai guru sekolah swasta, bapak saya juga membuka jasa jahit di rumah dan memiliki anak buah 3-4 orang, order masuk cukup lancar sampai dengan saya masuk SMP, order mulai menurun bahkan hampir tidak ada, yang saat itu pemahaman saya kesulitan yang dihadapi bapak saya karena sulitnya mendapatkan tenaga kerja penjahit. 

Minggu lalu suami saya mendapatkan pesan via aplikasi WA dari wali kelas anak saya, pesan ini cukup menyentuh hati saya karena tanpa sadar selama ini saya menginspirasinya

The person that inspires me is my mom

She was born in a not rich family, she was the 4th kid of 7 siblings, it was hard living with 6 person with only a few money. She still go to primary school because it was cheap back then, she lives in Kudus, Jawa tengah. Her parent want her to marry a kudus person and live and work in kudus, but that doesn't limit her, after finishing high school her parent cannot fund her anymore for her college. So she brave her self and go to college out of her town and also work to fund her college. Of course it was hard for a college student to work and learn at the same time, but eventually she can do it. When she was a kid her parent was sure that she cannot be success but she prove her self and move to Jakarta after college and search for a job. She work hard to prove that her parent was wrong, eventually after moving across a lot of job she stayed at a company called protelindo. Now she has a family with two kid and a decent house. She prove that even though her parent said that she was a failure she can be successful and happy. What I can learn from her is that she didn’t give up even though her parent didn’t support her, and she didn’t care what others said to her.

Terima kasih anakku, hidup tidak selalu nyaman, tetapi jalan hidup pun tidak selalu terjal. Selama kita yakin Allah bersama kita, tidak ada kesulitan yang tidak bisa kita hadapi

Ibu berdoa semoga engkau mendapatkan yang engkau cita-citakan, aamiin

Otokritik? Berani!

Pernah dengar otokritik? otokritik itu koreksi diri. simpelnya kita review diri sendiri apa saja yang ingin kita rubah, yang ingin kita perbaiki, karena pada dasarnya akan lebih mudah bagi kita untuk mendengarkan diri sendiri, daripada kita mendengarkan kritik dari orang lain. 

Tetapi harus digaris bawahi, otokritik ini harus dilakukan dalam koridor yang positif. artinya disertai dengan rencana2 perbaikan, jadi tidak hanya mengkritik diri tetapi kemudian sudah hanya berhenti di kritik saja. Kita dengan mudahnya membandingkan diri dengan orang lain, yang (biasanya) diikuti dengan pembenaran2 kenapa kita berada di situasi kita saat ini, tanpa rencana upaya perbaikan

Pernah denger gak 18/40/60 rules

18-40-60 Rule: When you're 18, you worry about what everybody is thinking of you; when you're 40, you don't give a darn what anybody thinks of you; when you're 60, you realize nobody's been thinking about you at all.

Menurutku 18/40/60 rules ini ada hubungannya dengan otokritik, di rules ini kita memperbaiki diri karena kita pikir orang lain memikirkan kita, jadi kita berusaha memperbaiki diri untuk membuat orang lain kagum. sejatinya otokritik sebaiknya dilakukan untuk diri sendiri, kita sendiri yang akan dapat manfaatnya

Kalau saya, otokritik saya terhadap diri sendiri adalah saya ingin lebih bisa bersabar, bersabar atas apapun proses yang sedang saya hadapi, proses saya untuk hidup lebih sehat, proses saya bertransformasi menjadi pribadi yang lebih baik

Have a nice weekend folks!

Sejatinya doa yang belum terjawab juga rejeki

Ceritanya dulu sekitar tahun 2014 an ketika covid belum menyerang dan kami (saya dan suami)masih WFO setiap hari, kami melewati rute dari rumah ke pintu masuk tol yang melewati jalan otonom gitu, nah di dekat perempatan sebelum masuk tol kami melewati rumah asri yang bener-bener memenuhi kriteria rumah idaman kami. Rumah dua lantai, ada pohon mangga didepan rumah, parkiran lumayan luas. Jadi tiap lewat depan rumah tersebut kami shalawatin terus.

Minggu lalu- 8 tahun kemudian- ketika saya WFO, saya melewati rumah itu lagi, rumah itu tidak berpenghuni sekarang dan sudah ada banner info rumah dijual. Saya cerita sama suami bahwa rumah impian kami itu dijual, setelah kami timbang2 sepertinya kami sudah tidak begitu menginginkan rumah tersebut, karena dalam rentang waktu 2014 sampai saat ini kami sekeluarga mulai enjoy hidup di cluster perumahan kami, kami mulai ikut kegiatan warga, anak saya juga banyak teman sepermainan, Alhamdulillah segala sesuatu berjalan lancar dan rejeki tambahannya adalah tetangga2 kami adalah orang-orang baik yang saling menjaga satu sama lain. Bahkan dalam kondisi mendesak, saya bisa meninggalkan anak saya sendiri di rumah tetapi minta tolong ke tetangga saya untuk sesekali mengawasi. 

Ditimbang2 kembali rumah impian tersebut agak jauh juga dari masjid/musholla, tetangga dekat nya adalah kios2, dan jalan di depan rumah adalah jalan lalu lintas menuju jalan tol yang dipastikan selalu ramai, jadi anak saya hanya akan bisa main di halaman, tidak mungkin main sepedaan keluar rumah. sementara di lingkungan sekarang, anak saya bisa dengan bebas bermain di luar rumah dengan teman2nya, bonusnya saya juga punya pohon mangga, di depan dan disamping rumah.

Jadi kesimpulannya adalah dengan belum terjawabnya doa juga rejeki, mungkin ketika kami menginginkan rumah impian itu karena kami belum menyadari nyamannya hidup di lingkungan yang sekarang, jadi kami pikir pindah rumah adalah solusi. Jadi butuh 8 tahun untuk kami akhirnya bisa menikmati suasana di perumahan ini. 

Untuk teman2 yang doanya belum terjawab, yakin dan percaya bahwa doa yang belum terjawab sejatinya adalah rejeki. 

Selamat menunaikan ibadah puasa Ramadhan, semoga Allah berkahi puasa kita dan kita mendapatkan kebahagiaan lahir batin, Aamiin

Kesehatan mental tanggung jawab siapa?

 Setahun terakhir ini orang2 mulai aware dengan kesehatan mental, jadi mulai banyak lah yang bikin IG story dengan caption healing 😁

Sebenernya menjaga kesehatan mental itu tanggung jawab siapa? Saya saat ini bekerja sebagai cool leee di perusahaan swasta, jadi saya bahas kesehatan mental di lingkungan pekerja. Ada beberapa hal yang menjadi penyebab terganggungnya kesehatan mental (sumber https://www.djkn.kemenkeu.go.id/artikel/baca/13552/Kesehatan-Mental-di-Lingkungan-Kerja.html)
1. Komunikasi dan sistem manajemen yang buruk
2. Tujuan organisasi dan tugas-tugas yang kurang jelas
3. Rendahnya dukungan kepada dan antar pegawau
4. Jam kerja tang terlalu mengikat hingga menggangu kehidupan pribadi
5. Terbatasnya ruang berekspresi
6. Eksklusivitas keputusan atau kesempatan berpartisipasi hanya pada segolongan pegawai saja
7. Penugasan yang tidak tepat bagi kompetensi individu pegawai
8. Perisakan antar pegawai

Menjawab pertanyaan diatas yang paling bertanggung jawab atas kesehatan mental adalah diri sendiri, artinya kita harus memahami diri kita sendiri, kebutuhan jiwa kita dan bagaimana cara memenuhinya. Karena jika mental kita sehat, gelombang gangguan dalam bentuk apapun kita tidak akan terganggu karena fully aware dengan diri sendiri

Beberapa hal yang bisa dicoba untuk menjaga kesehatan mental 

1. Membiasakan pola hidup sehat
Saya sendiri sedang mulai berupaya hidup sehat dengan olahraga dan makan secara terkontrol, tapi      godaannya itu kalau sedang bisnis trip, itu kuliner melambai2 minta dicoba, segala oleh2 diborong,        daaan selalu tidur telat. Tapi once balik ke rumah langsung diupayakan untuk back on track sih. Ada     tambahan bonus yang saya rasakan, dengan berolahraga itu kadang2 saya dapat ide2 yang pop up di   kepala, entah ide itu tentang urusan rumah, urusan anak atau urusan kerjaan. jadi kadang2 ditengah2 gowes saya akan berhenti dan put notes di hp saya sebelum ide2 itu menguap

2. Meningkatkan skill
 Tentang hal ini saya juga sudah pernah coba, jadi ceritanya diakhir 2020 tiba2 muncullah ide di kepala saya untuk meneruskan pendidikan, apalagi setelah lihat temen2 yang lain nerusin sekolah sambil kerja bisa dan Pak Su juga mendukung 100%, selain itu anak sudah gede kan. nah akhirnya apply lah saya di salah satu universitas negeri di Indonesia, boleh dibilang Ivy leaguenya Indonesia lah ya. Setelah test alhamdulillah dinyatakan lulus, but wait itu bukan challenge sebenarnya. Setelah pengumuman, mulailah penerimaan mahasiswa baru dilakukan online sebelum periode matrikulasi. Naah ini dia challenge sebenarnya, jadi karena ini level pendidikannya S2, systemnya itu banyakan diskusi artinya saya sudah harus baca bahan dan memahami (helloo saya lulusan S1 angkatan jadul, angkatan sheila on 7 baru debut wkwk) ga update lah ya dengan system perkuliahan, dan angkatan barengan saya ini anak2 new blood, baru lulus berapa tahun, energinya kaya kelinci energizer. Gimana rasanya jadi emak2 turun mesin dua kali bergabung di squad kaya gitu, i tell you mual2 tiap kali mau kuliah. Jadi matrikulasi itu ada 4 mata kuliah, tiap mata kuliah itu bahannya 2 buku, tiap buku tebelnya sampe 300 lembar berbahasa inggris. Kuliahnya di weekend start malam sabtu jam 7 malem sampe jam 10 malam, lanjut sabtu jam 8 pagi sampe jam 7 malam. Ngebul gak tuh otak!  jadi ceritanya jalan sebulan, everything is ancur2an, masih bisnis trip ke lapangan, baca email sampe jam 11 malem, lanjut baca buku, tidur ga sampe 5 jam. At the end saya angkat bendera putih gan hehehehe, kelar perjuangan saya. buat teman2 yang kuliah sambil kerja, two thumbs up anda semua pejuang tangguh

3. Meminta pertolongan
Masing2 individu itu berbeda, jadi jika orang lain mampu melakukan sesuatu hal belum tentu kita bisa, comparation is the thief of joy. Jadi jika merasa tidak sehat secara mental, cari pertolongan!

4. Berpikiran terbuka
poin 4 ini termasuk secara sadar menerima diri sendiri apa adanya, bukan berarti tidak memperbaiki diri ya, istilahnya itu accept your flaw. ga kalah penting juga mengisi emotional savingmu, jika emotional savingmu full, kamu happy dengan diri sendiri, apapun yang terjadi di luar ya kamu tetep jadi diri kamu sendiri

Kata pepatah jawa, kudu biso rumongso, ojo rumongso biso. yen kaliren madango 😁

Have a nice weekend, ayo turuuu


Konsisten itu berat juragan!

Dulu, saya pernah berjanji pada diri sendiri bahwa saya akan all out di setiap kesempatan, akan melakukan effort terbaik dalam setiap hal. Tetapi yang saya tidak tahu, bahwa konsisten dan persistent itu butuh tenaga dan somehow makin kesini makin ada umur jadi upaya untuk tetap maksimal di setiap kesempatan itu jadi berat. 

Misalkan upaya konsisten dengan schedule pagi, review kerjaan sendiri sebelum kerjaan team. endingnya start buka laptop pagi langsung checking kerjaan team, kerjaan sendiri malah jadi ke handle malem, dan ini makin lama makin dragging. Sampe akhirnya saya paksakan kembali ritme seperti biasa, dan itu butuh effort, bangun pagi itu kepala sudah penuh rencana, mau ini itu. Daan lagi-lagi, namanya perempuan, agenda banyak, cita-cita banyak tapi waktu mepet. udahlah sekian hehehe

Seperti nulis di blog ini, dulu saya pengennya konsisten tiap minggu bikin tulisan, awalnya masih semangat tuh eh lama-lama terkubur dengan aktivitas, dan puncaknya saya ga posting apapun dalam beberapa tahun, ini parah banget.

Konsistensi itu bisa membantu kita mencapai goal besar, karena konsistensi itu seperti kita mengayuh sepeda, akhirnya akan sampai juga tapi kita butuh melakukannya terus menerus. Hobi baru yang sedang saya coba setahun terakhir ini bersepeda, yaa kurang lebih sama dengan yang diposting di media sosial, tetapi sepeda saya ga sekeren itu ehe. Nah pelajaran konsistensi saya terapkan dalam hal bersepeda, dulu awalnya saya paling jauh bersepeda itu 7 Km, dan itu berasa udah olahraga banget, ternyata makin sering dilakukan makin banyak perbaikan. Ga ngos2an lagi sepedaannya, kaki gak lemes, postur mulai bener dan speed mulai meningkat. The good news is, sekarang saya mulai terbiasa bersepeda dengan jarak 30 - 40 Km, ini luar biasa buat saya sendiri. cita-citanya sih sepedaan dengan jarak up to 100 Km, semoga tercapai

Kita semua bisa setting goals, dan split dalam goals yang kecil dan do-able. coba lakukan secara konsisten, insyaAllah tercapai goalsnya (ini menasehati diri sendiri juga)

So have a nice weekend folks


How to deal with Galauers team member

Pernah ga kita bekerja dalam satu team bersama dengan seseorang yg galau almost all the time? ini annoying banget sih
Jadi si galauers ini bekerja berdasarkan mood, we cant expect the consisten result of their job, yang impactnya KPInya bakal terimpact juga. kalau KPInya hanya impact ke dia sendiri sih gak papa ya. tapi kalau impact ke keseluruhan team ini yang ribet

Jadi gimana sih kita bisa kerja bareng dengan si galau ini? saya punya beberapa tips, mungkin tidak selalu efektif tapi worth to try lah

1.  Diskusi 

Libatkan si galau ini untuk menentukan strategi untuk mengejar target, stratagi action yang possible        dan do - able. Dalam sesi diskusi ini jangan ada judging, semua ide kita tampung dan di elaborate,         tanamkan dalam pikiran kita bahwa tidak ada ide yang buruk, semua ide bisa kita gali lebih detail         dan bahas  secara detail

2. Konfirmasi

Hasil diskusi di point 1 , di tuangkan dalam bentuk email yang ditujukan kepada semua peserta             diskusi, jadi ada jejak dari hasil diskusinya

3. Monitor

Eksekusi dari ide tersebut di monitor secara regular, misal 1 minggu sekali, 2 minggu sekali,                 tergantung urgensinya

4. Corrective action

Jika ternyata eksekusi ini tidak sesuai dengan plan, dan si galau ini mulai ngeles, ajak ngobrol dan diskusikan plannya kembali

Tentu kita semua punya batas kesabaran atas hal2 seperti ini, tapi pastikan bahwa kita menyampaikan keberatan kita dan kekecewaan kita serta sediakan ruang untuk perbaikan sebelum sampai akhirnya kita sampai ke level punishment

Good luck!





Whose problem is it anyway?

Continuing my previous post

From the mouse trap story:
The mousetrap didn't seem like a threat to the Hen, the Goat or the Cow. But in the end it affected all of them and the mouse was spared

Aren't such situation common in real life? In your division, organization and team, there will always be a problem. The question is who owns the problem anyway?

Whenever something happens somewhere, no matter how remote, insignificant or improbable, it has potential to affect us. When a problem arise, its a problem for everyone to solve, don't ignore it, because in a team somebody's problem means everybody's problem. When small error happen it could become bigger and endanger the whole team.

Ownership is a habit that leads to leadership.You can be a true leader only if you are responsible and accountable for the things you ought to deliver. But the borders of responsibility do not stop at the leaders doorstep, in the other hand a leader is the one who take initiative without directive.

The willingness to step outside your comfort zone and take responsibility not only stretches your potential, but also increases your value to whichever organization you are associated with.

This post taken from Leadership Lesson from The Mousetrap book by Manoj Vasudevan



Leadership Lessons From The Mousetrap

I believe you could learn some lesson from this story

Once upon a time there lived a poor farmer. He lived in a small house, along with his wife. One day, the poor farmer bought a mousetrap. 

The mouse of the house was terrified. "Oh, what should i do?" he shrieked. He panicked and run out into the farm where he saw the Hen, the Goat and the Cow. 

He rushed to the Hen screaming, "Hen! Hen! There is a mouse trap in the house! There is a mouse trap in the house!"

The Hen said, "Mr. Mouse, I understand that this is a grave concern for you, but it is not my problem."

The Mouse rushed to the Goat and said, "Mr. Goat, Mr. Goat! There is a mouse trap in the house! There is a mouse trap in the house!"

The Goat replied, " Ho ho ho. It must be terrible for you. I am sorry to hear of your troubles, but it is not my problem."

The Mouse rushed to the Cow. In tears he whimpered, " Oh, Cow, Oh, Cow, Oh, Holy Cow, there is a mouse trap in the house! There is a mouse trap in the house!"

The Cow merely laughed, "Ha ha, have you ever heard of a cow being trapped in a mouse trap? " Ha ha ha, I am sorry for you, but don't get me involved. It is not my problem."

You see, a mouse trap was in the house.

Everyone heard about it. All of them ignored it because it was not their problem.

That night there was a loud BANG! Something got trapped in the mousetrap. The farmer's wife was so happy. "Oh finally, I got that mouse!". She went to pick up the mouse. It was pitch dark. She couldn't see what was trapped in the mouse trap. 

A snake had gotten itself trapped in the mouse trap. As soon as she stooped down, the snake bit her. Upon hearing his wife cry out in pain, the farmer rushed into the kitchen with a lantern. He saw the snake and killed it, but the damage was already done.

The farmer wife feel ill with a fever. The poor farmer didn't know what to do. He slaughtered the Hen and made chicken soup for his wife. 

The mouse was relieved. He said to the Goat and the Cow, "I told you so. It is your fault."

The Goat replied in anger, "It's your fault! If there weren't a mouse, there wouldn't be a mousetrap in the house!"

The next day many friends and relatives came to visit the farmer's wife. The poor farmer didn't have food to feed them. So he slaughtered the Goat and fed his guests.

Unfortunately, two days later the farmer's wife passed away. Many people came to her funeral. To feed them, the poor farmer slaughtered the Cow.

After this sad turn of events, the farmer was in a state of shock. He had aimed to kill the mouse, but in the process he lost everything he had except for his home and farm. He regretted his decision to buy the mousetrap. The farmer become sad and lonely and depressed. The depression took a toll on his life. He didnt have any interest or motivation to work. He was living in regret without sleep or energy. He didn't find any purpose in his life anymore.

Three months later, the poor farmer passed away. 

Taken from Leadership Lesson From The Mousetrap by Manoj Vasudevan

Gagal itu biasa

Teruntuk kamu yang sedang kecewa

Kasih advice itu gampang, ngejalaninnya yang susah. Sometimes dalam hidup ini seringkali kita dikecewakan oleh ekspektasi kita sendiri, yang bikin sakit hati sebenernya diri sendiri. Ngarep sampe ke ujung langit endingnya blah gitu doang. Sering banget kamu kasi advice, tapi ketika hal yang sama terjadi ke dirimu sendiri, see kecewa kan? memanage kekecewaan itu ga gampang, rasanya kaya patah hati. Galau beberapa saat, dan tetep mikirnya kok bisa ya? kok bisa gitu ya? kok ga sesuai perkiraan ya

Hmm couldn't give any other advice, just accept it and move on. Someday kamu bakal ketawa kok nginget kejadian ini

Ikhlas untuk semua doa yang belum terjawab, untuk nasib yang belum berpihak, untuk usaha yang belum berhasil

Avengers

Udah pernah nonton film the avengers? yang belum pernah silahkan cari tahu dulu yah, karena saya akan cerita tentang avengers di dunia kerja

Jadi kalau di film avengers dikisahkan tentang group of superhero yang bekerja bersama untuk menyelesaikan masalah, nah kalau di dunia kerja avengers bisa diumpamakan sebagai group of Project Manager yang bekerja dalam satu team untuk mencapai tujuan tertentu, ini point pertama.

Point kedua adalah setiap project managers ini biasanya punya team juga dan punya cara kerjanya sendiri, bahasa kerennya signature style ya. Problem muncul karena si project manager ini biasanya menjadi leader untuk teamnya, jadi PM ini expecting an update from their own team. Hal ini menjadi masalah ketika PM ini menjadi part of the team, jadinya style expecting an update ini masih kebawa, yang harusnya PM ini mengupdate ke leadernya ini jadi kebalik, leadernya yang harus sabar nanya update statusnya dan somehow ini irritating si PM

Solusinya gimana dong? 

Kalau di film avengers ini kan ada Captain America yah yang muncul sebagai leader, meng coordinate semua issue dan taking decision. Solusinya kalau kebetulan kita berada di team PM avengers ya sama, harus ada yang step us as leader, handling issue dan take decision, harus ada yang jadi Captain America, meskipun untuk kultur Indonesia ini masih jarang terjadi. Dan yang tidak boleh ketinggalan itu komunikasi harus jalan

At the end, all of us are superhero right?